Monday, 2 February 2015

Janganlah engkau marah

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ،
أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :ِ أَوْصِنِيْ،
قَالَ : لاَ تَغْضَبْ، فَرَدَّدَ مِرَارًا؛ قَالَ : لاَ تَغْضَبْ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6116).


Sahabat yang meminta wasiat dalam hadits ini bernama Jariyah bin Qudamah radhiyallahu ‘anhu. Ia meminta wasiat kepada Nabi dengan sebuah wasiat yang singkat dan padat yang mengumpulkan berbagai perkara kebaikan, agar ia dapat menghafalnya dan mengamalkannya. Maka Nabi berwasiat kepadanya agar ia tidak marah. Kemudian ia mengulangi permintaannya itu berulang-ulang, sedang Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam tetap memberikan jawaban yang sama. Ini menunjukkan bahwa marah adalah pokok berbagai kejelekan, dan menahan diri darinya adalah pokok segala kebaikan.

Marah adalah bara api yang dilemparkan oleh syaitan ke dalam hati anak Adam yang menyebabkan hati bergejolak sehingga ia mudah emosi, dadanya membara, urat sarafnya menegang, wajahnya memerah, dan terkadang tindakannya pun menjadi tidak masuk akal.
Marah yang dilarang dalam hadits di atas adalah marah yang dilakukan karena menuruti hawa nafsu dan menimbulkan kerusakan. Inilah yang dimaksud oleh Ja’far bin Muhammad rahimahullah. Beliau mengatakan, “Marah adalah pintu segala kejelekan.” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, I/363)
Di dalam Al-Qur’an al-Karim disebutkan bahwasanya Allah Ta’ala marah. Adapun marah yang dinisbatkan kepada Allah Ta’ala Yang Mahasuci adalah marah dan murka kepada orang-orang kafir, munafik, dan orang yang melewati batas-Nya.
Sifat marah bagi Allah Ta’ala merupakan sifat yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan bagi Allah. Adapun marah yang dinisbatkan kepada makhluk, maka ada yang terpuji dan ada pula yang tercela. Terpuji apabila dilakukan karena Allah dalam membela agama-Nya dengan ikhlas, membela hak-hak-Nya, dan tidak menuruti hawa nafsu, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau marah apabila ada hukum-hukum Allah dan syari’at-Nya yang dilanggar. Begitu pula marahnya para Nabi dan Rasul-Nya ‘alaihimush sholatu was salam. Adapun marah yang tercela adalah apabila dilakukan karena kepentingan duniawi, dan melewati batas.
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau jangan marah” pada hadits di atas mengandung dua hal:
Pertama, kendalikan dirimu tatkala muncul sebab-sebab yang memicu timbulnya marah, sehingga engkau tidak marah. Kedua, janganlah engkau turuti keinginan marahmu. Yakni usahakan dirimu untuk tidak mengerjakan apa yang diperintah oleh amarahmu. Sebab, apabila amarah telah menguasai manusia, maka amarah itulah yang akan memerintah dan yang melarangnya.
Hadits di atas mengandung perintah untuk memiliki akhlak yang baik, berupa dermawan, murah hati, penyantun, malu, tawadhu’, sabar, menahan diri dari mengganggu orang lain, pemaaf, menahan amarah, wajah berseri, dan akhlak-akhlak baik yang semisalnya.
Pujian Bagi Orang Yang Menahan Amarah
Allah Ta’ala memuji orang-orang yang pandai menahan marahnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ (37)

“… Dan apabila mereka marah segera memberi maaf.” (QS. Asy-Syura: 37)
Dan juga firman-Nya:

وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ (134)

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang sedang marah untuk melakukan berbagai usaha untuk menahan dan meredakan amarah-nya. Dan beliau memuji orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.
Menurut syari’at Islam, orang yang kuat adalah orang yang mampu melawan dan mengekang hawa nafsunya ketika marah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (Hadits Shohih. Diriwa-yatkan oleh al-Bukhori, no. 6114 dan Muslim, no. 2609)
Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan bahwa melawan hawa nafsu lebih berat daripada melawan musuh. (Fat-hul-Baari, X/518)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang keutamaan orang yang dapat menahan amarahnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ
دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah ‘Azza wa Jalla akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, III/440; Abu Dawud, no. 4777; at-Tirmidzi, no. 2021; dan Ibnu Majah, no. 4286. Hadits ini dinilai hasan oleh al-Albani dalam Shohiih al-Jaami’ish Shaghiir, no. 6522).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (Diriwayatkan oleh ath-Thobroni dalam al-Mu’jamul Ausath, no. 2374 dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohiih al-Jaami’ish Shoghiir, no. 7374)
Cara Mengobati Amarah Jika Bergejolak
Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meredakan amarah:
1. Berlindung kepada Allah dari godaan syaitan dengan membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang sangat marah, beliau bersabda:

إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Aku sungguh mengetahui satu kalimat yang jika ia mengucapkannya niscaya marahnya akan hilang, yaitu ia mengucapkan: “A’uudzu billaahi minasy syaithoonir rojiim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3282 dan Muslim, no. 2610)
Allah Ta’ala memerintahkan kita apabila kita diganggu syaitan hendaknya kita berlindung kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ (200)

“Dan jika syaitan datang mengodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200)
2. Mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, berdzikir, dan istighfar.
3. Dianjurkan berwudhu’.
4.  Hendaklah diam dan tidak mengumbar amarah. Hendaknya seorang muslim mengekang amarahnya dalam dirinya dan tidak menampakkannya kepada orang lain dengan lisan dan perbuatannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, I/239; al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad, no. 245. Hadits ini dishohihkan oleh  al-Albani dalam Shahiih al-Jaami‘, no. 693 dan Silsilah ash-Shahiihah, no. 1375).
Ini juga merupakan obat yang manjur bagi amarah, karena jika orang sedang marah maka keluarlah darinya ucapan-ucapan yang kotor, keji, melaknat, mencaci-maki dan lain-lain yang dampak negatifnya besar dan ia akan menyesal karenanya ketika marahnya hilang. Jika ia diam, maka semua keburukan itu hilang darinya.
*****
Sumber : Buletin at-Taubah edisi ke-73
ditulis oleh dr. Muhaimin Ashuri
Artikel www.attaubah.com

No comments:

Post a Comment