Monday, 27 April 2015

Anak hasil pernikahan antar agama

1. bagaimana kedudukan anak hasil pernikahan antar agama dalam hukum waris islam?

2. dapat bagiankah kalau seandainya ibunya muslimah sedang ayah nya non muslim

Jawaban:

1. Tidak ada waris mewarisi orang yang berbeda agama. Haditsnya jelas "laa yaritsul 
mu'minu al kaafira wala al kafiru al mu'mina". 

2. Harus diingat, perkawinan ini sendiri batil. Karena seorang Muslimah diharamkan 
dinikahi Non Muslim. Jadi keberadaan anak ini sendiri adalah suatu dilemma padadasarnya, 
jika dilihat dari garis keturunan. 

Namun demikian, jika kasusnya terjadi, maka anak tersebut mendapatkan dari warisan 
ibunya sesuai pembagian syr'i karena masih sama agama.

Tuesday, 14 April 2015

Ibadah Hanya Kepada Allah SWT

Bismillah Assalamu alaikum Tidaklah kita diciptakan kecuali untuk merealisasikan peribadatan hanya kepada Allah Azzawajalla. Begitu juga inti dakwah para Rasul adalah mendakwahkan ummatnya untuk beribadah hanya kepada Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
وَمَاخَلَقْتُالْجِنَّوَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56)
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
 “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah Thogut (sesembahan  yang disembah selain Allah yang diri ridha disembah –ed)” (QS. An-Nahl : 36)

Tidak boleh seseorang memalingkan ibadah kepada selain Allah, jika hal ini dilakukan maka sungguh dia telah berbuat syirik (menyekutukkan Allah). Allah Subhanahu wata’aala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (Qs. An-Nisa’:36)
إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Qs. An-Nisa : 48)

Lalu apa itu ibadah..?
Ibadah adalah sebuah nama yang mencakup apa-apa yang Allah cintai dan ridhai, baik berupa perkataan ataupun perbuatan, baik amalan  zhahir dan  amalan bathin. (silahkan lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 10/149-dinukil dari kitab Al-Qaulul Mufid Fi Adilatit, syaikh Abdul Wahhab Al-Whusoby).

Macam-Macam Ibadah
Berikut ini akan disebutkan tentang macam-macam ibadah berserta contohnya.
Ibadah I’tiqadiyah (ibadah yang berkaitan dengan aqidah/keyakinan): Yaitu mentauhidkan Allah dalam Rububiyah-Nya (menyakini Allah satu-satunya pencipta, pemberi rezeki dan pengatur alam semesta), Uluhiyah-Nya (menyakini Allah satu-satunya yang berhak disembah) dan Asma wa Sifat-Nya (menetapkan nama-nama dan sifat Allah tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). ini adalah ibadah yang paling utama dan  yang paling agung.
Ibadah Lafzhiyah (ibadah yang berkaitan dengan lisan) : yaitu mengunakan lisan untuk apa-apa yang Allah cintai dan ridhai dari perkataan. seperti mengucapan Laa Ilaha Illallah Muhammadarrasulullah (syahadat), membaca Al-Qur’an, doa dan dzikir-dzikir yang di ajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta ibadah lafzhiyah (ucapan) lainya.
Ibadah Badaniyah (ibadah yang terkait dengan badan) : Yaitu mengunakan badan untuk melakukan apa-apa yang Allah cintai dan ridhai. Seperti ruku, sujud dalam shalat. Dan seperti puasa, amalan-amalah haji, hijrah, jihad dan ibadah badaniyah lainnya.
Ibadah Maliyah (ibadah yang terkait dengan harta) : Yaitu menggunakan harta yang Allah karuniakan untuk apa-apa yang Allah cintai dan ridhai. Seperti mengeluarkan zakat, shadaqah dan yang lainnya.
Ibadah Tarkiyah (ibadah yang terkait dengan meninggalakan sesuatu) : Yaitu seorang muslim meninggalkan apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan dan larang darinya dalam rangka beribadah kepada Allah. Dia meninggalkan maksiat karena takut adzab Allah dan mengharap ridha serta pahala Allah. Seperti meninggalakan perbuatan syirik (menyekutukkan Allah), bid’ah dan yang lainnya. (Silahkan lihat Kitab Tathiral I’tiqad Al Imam Shan’ani, Al-Qaulul Mufid Fi Adilatit Tauhid : , Syaikh Abdul Wahhab Al-Whusoby : dan beberapa syarh kitab Al-Qaulul Mufiid).

Hanya kepada Allah lah kita beribadah. Kita serahkan seluruh ibadah kita hanya kepada-Nya. Dan tidak kepada yang lainnya. Sebagaimana Allah Ta’aala berfirman :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah yang Kami beribaah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. (Qs. Al-Fatihah : 5).

Ditulis oleh : Abu Ibrahim Abdullah Al-Jakarty

Bergaul Dengan Akhlak Yang Baik

Mungkin pembaca pernah mendengar atau membaca hadis Abu Dzar Al-Ghifari radiyallahu anhu yang menyebutkan sabda Rasulullah salla Allah alaihi wa sallama:

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Susulilah kejelekan dengan kebaikan, nescaya kebaikan itu akan menghapuskan kejelekan tersebut, dan bergaul-lah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad 5/135, 158, 177, At-Tirmidzi no. 1987, dan selain keduanya. Dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 97 dan di kitab lainnya)

Thursday, 26 March 2015

Imam Nasirussunnah Muhammad ibn Ibris Asy-Syafi`i

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah mentakdirkan Imam Muhammad ibn Idris Asy-Syafi`i”.


NASAB BELIAU
Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Uthman bin Syaafi’ bin As-Saai’b bin ‘Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al- Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pada Abdu Manaf, sedangkan Al-Muththalib adalah saudaranya Hasyim (bapanya Abdul Muththalib).

Saturday, 21 March 2015

Mengambil Ilmu Agama langsung dari guru dan kitab


Tanya Jawab bersama Syaikh Ubaid Al-Jabiri Hafizhahullah

S: Ya Syaikh, semoga Allah menjagamu, apakah boleh dikatakan bahwa ilmu agama itu tidak diambil kecuali melalui lisan pada syaikh dan ulama, dan tidak diambil dari kitab-kitab dan internet? Dan bagaimana arahannya dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits shahih: (قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَاب) “Ikatlah ilmu dengan kitab”?


J: Hadits ini tidak mengandung syahid. Hadits “Ikatlah ilmu” iaitu apa yang kau ambil dari seorang ulama, ikatlah ia sehingga tidak hilang darimu. Akan tetapi yang aku ketahui dari sirah ulama bahwa mereka tidak melarang orang yang mengambil ilmu selamanya. Mereka hanya mengajak untuk mengambil ilmu langsung dari lisan para ulama, itulah yang asal.

Dengan ini, mungkin untuk  mengatakan bahwa diperolehnya ilmu ada dua cara:

Cara yang mulia dan asal: dengan mengambil langsung ilmu dari para ulama.

Cara kedua, ketika diperlukan dan ada kelemahan: mengambil ilmu dari kitab-kitab.

Dulu para ulama mengatakan: “Barangsiapa gurunya itu kitab, maka kesalahannya lebih banyak dari benarnya.”

Akan tetapi bila seseorang berguru kepada seorang ulama atau para ulama, dan dia mengambil darinya pokok-pokok ilmu syar’i dan metode istimbat hukum-hukum dari dalil-dalilnya, atau istidlal atas berbagai permasalahan dengan nas-nas atau ijma, memahami ilmu syari, maka tidak ada larangan dia sendiri melihat dan menerapkan apa yang dia ambil dari syaikhnya.

Dan kadang keperluanhan satu negeri mendesak seseorang atau dua orang untuk melihat kepada kitab-kitab ulama, dan menyampaikan apa yang mereka lihat kepada orang yang satu negeri dengan mereka karena butuhnya mereka terhadapnya, padahal mereka tidak memiliki kemampuan untuk meneliti permasalahan dan merajihkan yang rajih. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu.

Akan tetapi misalnya: dia membaca kitab-kitab ulama yang terpercaya dalam masalah aqidah dan fiqih, serta dia menjelaskan kepada manusia apa yang mereka fahami.

(لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا(البقرة/286)

“Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali yang dimampuinya.”

Dan ini adalah kemampuannya. “Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali yang dimampuinya.”

Tidak boleh orang-orang dilarang darinya padahal mereka memerlukan kepada orang-orang yang semisalnya.

S: ya syaikh, kalau dia membacakan ilmu kepada manusia, padahal dia tidak memiliki ilmu? Kemudian dia mengatakan bahwa dia membacakan ilmu milik semisal syaikh ibnu baz dan syaikh ibnu utsaimin, yang engkau ketahui adanya perbedaan pendapat dalam sebagian masalah furu’, apa yang dia lakukan? Dari sisi mengamalkan yang yang kuat dan membacakan ilmu kepada orang-orang?

J: Orang ini dia tidak mempunyai keahlian untuk membezakan yang rajih dan marjuh. Tetapi ini yang dia mampu. Ini yang dia mampu. Barangsiapa yang dia berada di atas kebaikan dan ketakwaan yang engkau dapati, jika datang seorang yang lebih berilmu darinya, maka perkaranya diserahkan kepadanya.

Sumber:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=122827&view=findpost&p=604828

Thursday, 12 March 2015

Isbal Tanpa Kesombongan



Pertanyaan :

Apakah menurunkan pakaian melewati kedua mata kaki (Isbal) bila dilakukan tanpa sombong dianggap suatu yang haram atau tidak ?

Jawab :

Menurunkan pakaian di bawah kedua mata kaki bagi lelaki adalah perkara yang haram. Apakah itu kerana sombong atau tidak. Akan tetapi jika dia melakukannya kerana sombong maka dosanya lebih besar dan keras, berdasarkan hadist yang tsabit dari Abu Dzar dalam Shahih Muslim, bahwa Rasulullah bersabda :